KENAKALAN REMAJA
DISUSUN OLEH :
AZHAR JAMALUDDIN (31416259)
CHORESA JULIAN (31416590)
RANI
JULIANTI (36416074)
SAMIADJI
EKA KRISTYANTO (36416802)
SRI
AYU DEWI PAMUNGKAS (37416135)
KELAS : 1ID03
KELOMPOK 4
UNIVERSITAS GUNADARMA
A.
Pengertian
Kenakalan Remaja
Para ahli pendidikan
sependapat bahwa remaja adalah
mereka yang berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui
masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa.
Ia berada pada masa transis.
Kenakalan
remaja adalah
suatu perbuatan yang melanggar norma, aturan,
atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan pada
usia remaja atau transisi masa anak-anak ke dewasa.
Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum
pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya
sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Pengertian kenakalan remaja menurut para
ahli :
·
Kartono, ilmuwan
sosiologi “Kenakalan Remaja atau
dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan
gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian
sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang”.
·
Santrock “Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai
perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan
kriminal.”
B.
Faktor
– Faktor Penyebab Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja itu terjadi karena
beberapa faktor, bisa disebabkan dari remaja itu sendiri (internal) maupun
faktor dari luar (eksternal).
1. Faktor
Internal
a. Krisis identitas: Perubahan biologis
dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi.
Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua,
tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal
mencapai masa integrasi kedua.
b. Kontrol diri yang lemah: Remaja yang
tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan
yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi
mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak
bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan
pengetahuannya.
2. Faktor
Eksternal
a. Keluarga dan Perceraian orangtua,
tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota
keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di
keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan
agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab
terjadinya kenakalan remaja.
b. Teman sebaya yang kurang baik.
c. Komunitas atau lingkungan tempat
tinggal yang kurang baik.
C.
Cara
Mengatasi Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja yang semakin hari
semakin bertambah banyak di Indonesia memiliki dampak yang sangat buruk bagi
mental dan fisik para penerus bangsa. Oleh karena itu, peran aktif pemerintah
dan masyarakat sangat diharapkan untuk mengurangi angka kenakalan remaja
sekarang ini. Berikut beberapa cara menagatasi kenakalan remaja:
1. Kegagalan mencapai identitas peran
dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan.
Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang
telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil
memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
2. Adanya motivasi dari keluarga, guru,
teman sebaya untuk melakukan point pertama.
3. Kemauan orangtua untuk membenahi
kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan
nyaman bagi remaja.
4. Remaja pandai memilih teman dan
lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas
mana remaja harus bergaul.
5. Remaja membentuk ketahanan diri agar
tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada
tidak sesuai dengan harapan.
D.
Tawuran
Tawuran adalah
suatu tindakan anarkis yang dilakukan oleh dua kelompok dalam bentuk
perkelahian masal di tempat umum sehingga menimbulkan keributan dan rasa
ketakutan (teror) pada warga yang ada di sekitar tempat kejadian perkara
tawuran. Tawuran bisa terjadi antar pelajar sekolah, antar mahasiswa kampus,
antar warga, antar pendukung / suporter, antar pemeluk agama, antar suku, dan
bisa juga antara warga dengan pelajar, antara pendukung parpol dengan polisi
dan lain sebagainya.
Tawuran yang paling
sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari adalah tawuran pelajar sekolah.
Tawuran antar murid sekolah biasanya terjadi karena berbagai hal, yaitu seperti
:
1. Budaya atau kebiasaan murid sekolah.
2. Saling pelotot-pelototan antar pelajar sekolah.
3. Saling ejek-mengejek antar pelajar sekolah.
4. Ingin balas dendam karena ada yang diganggu.
5. Keributan imbas dari suatu pertandingan atau perlombaan.
Terdpat dua faktor penyebab terjadinya tawuran antar pelajar
yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang
berlangsung melalui proses internalisasi diri yang keliru oleh remaja dalam
menanggapi milieu di sekitarnya dan semua pengaruh dari luar. Perilaku
merupakan reaksi ketidakmampuan dalam melakukan adaptasi terhadap lingkungan
sekitar. Adapun faktor eksternal adalah sebagai berikut.
1. Faktor
keluarga
Faktor
keluarga terdiri dari :
a. Baik buruknya rumah tangga atau
berantakan dan tidaknya sebuah rumah tangga.
b. Perlindungan lebih yang diberikan
orang tua.
c. Penolakan orang tua, ada pasangan
suami istri yang tidak pernah memikul tanggunf jawab sebagai ayah dan ibu.
d. Pengaruh buruk dari orang tua,
tingkah laku kriminal, dan tindakan asusila.
- Faktor Lingkungan Sekolah
Lingkungan sekolah yang tidak menguntungkan bisa berupa
bangunan sekolah yang tidak memenuhi persyaratan, tanpa halaman bermain yang
cukup luas, tanpa ruangan olahraga, minimnya fasilitas ruang belajar, jumlah
murid di dalam kelas yang terlalu banyak dan padat, ventilasi dan sanitasi yang
buruk, dan sebagainya.
- Faktor Llingkungan
Lingkungan sekitar yang tidak baik dan menguntungkan bagi
pendidikan dan perkembangan remaja. Terkait dengan konsep kelompok sosial, W.G.
Summer membagi kelompok sosial menjadi dua yaitu in-group dan out-group.
Menurut summer, dalam masyarakat primitif yang terdiri dari kelompok – kelompok
kecil dan tersebar di suatu wilayah terdapat pembagian jenis kelompok yaitu
kelompok dalam (in-group) dan kelompok luar (out-group). Kelompok dalam
(in-group) adalah kelompok sosial yang individu-individunya mengidentifikasikan
dirinya dengan kelompoknya. Adapun kelompok luar (out-group) merupakan
merupakan kelompok di luar kelompok in-group.
- Faktor Pergaulan
Pada sekolah biasanya terbentuk beberapa kelompok siswa, di mana
ada kelompok siswa yang rajin, yang sering menjadi juara kelas, yang menjadi
perwakilan sekolah dalam berbagai ajang lomba dan ada juga sekelompok siswa
yang salah dalam pergaulan yang sering sekali melanggar norma-norma yang ada di
sekolah.
Ada juga siswa yang biasa-biasa saja, siswa ini biasanya asyik
dengan kehidupan nya sendiri dan hanya bergaul sekadarnya saja, siswa yang satu
ini biasanya tidak begitu aktif dalam sekolahnya, kelompok ini adalah siswa
yang biasanya suka bermain game tapi tidak menutup kemungkinan termasuk ke
dalam dua kelompok di atas.
Siswa yang sering melanggar peraturan sekolah biasanya membentuk
sebuah kelompok dengan sendirinya, kelompok ini mempunyai solidaritas yang kuat
pada kelompok ini jugalah yang menjadi ujung tombak terjadinya perkelahian
antar pelajar.
- Faktor Mental dan Gengsi
Siswa laki-laki yang biasanya mempunyai gengsi jika tidak
mengikuti kegiatan yang satu ini, bagi siswa yang tidak ikut akan dianggap
bahwa dia adalah siswa yang lemah, penakut, dan akan menjadi bahan ejekan bagi
siswa yang lainnya.
Gengsi yang tertanam di jiwa siswa laki-laki sangat besar, tawuran
juga biasa dijadikan aksi unjuk gigi dan ajang kuat-kuatan, siapa saja yang
berhasil menaklukkan lawan akan disegani oleh siswa lainnya, gengsi seperti ini
harus dihilangkan.
6. Narkoba dan Barang Haram Lainnya
Ketegasan sekolah dalam melarang siswa nya untuk merokok sangat kecil, bahkan guru-gurunya pun dengan seenaknya saja merokok di hadapan para siswa, kenapa rokok karena rokok adalah awal dan jembatan untuk menggunakan barang haram lainnya.
Jika terdapat siswa yang sudah sering dan menjadi seorang perokok akut, ia akan mencoba mengkonsumsi hal lainnya tidak menutup kemungkinan untuk mengkonsumsi narkoba, selain narkoba minuman keras lainnya menjadi penyebab terjadinya tawuran.
Siswa yang bolos dan ngumpul dengan siswa lainnya biasanya mencari kegiatan, tidak hanya nongkrong saja banyak dari mereka yang meminum minuman keras yang efek nya adalah membuat keberanian pada siswa muncul.
Sehingga siswa tersebut berani melakukan apa saja, saat dalam
keadaan tidak sadar juga sekelompok siswa biasanya berjalan-jalan hingga
akhirnya bertemu dengan siswa lainnya yang diawali dengan saling mengejek lalu
tidak terima dan akhirnya menyebabkan tawuran.
- Tumbunya Jiwa Premanisme
Siswa yang ingin tampil keren tapi tidak punya uang dan ingin
mempunyai uang dengan cepat tampa kerja akan melakukan pemalakan atau merampas
uang siswa lain yang menurutnya lemah. Melakukan secara beramai-ramai
menjadikan siswa yang dipalak takut.
Tapi jika siswa yang dipalak tidak terima, lalu melapor kepada
teman kelompoknya yang akhirnya membuat kesolidaritasan mereka diuji, maka hal ini
akan berujung pada tawuran di mana siswa yang dipalak dengan kelompoknya akan
membalas.
8. Perhatian Guru
Perhatian dari guru yang kurang terhadap siswa nya menjadi
penyebab terjadinya tawuran, guru yang lebih memperhatikan siswa yang
berprestasi saja mengabaikan siswa yang kurang cakap dalam menerima pelajaran.
Perbedaan menangkap pelajaran dan bakat siswa semuanya
disamaratakan, biasanya jika siswa tidak pandai dalam ilmu pelajaran memiliki
bakat di seni atau olahraga lainnya. Seharusnya guru melakukan perhatian khusus
terhadap siswa yang kurang dalam belajar nya.
Bukan hanya memperhatikan akan tetapi juga menyalurkan bakat yang
dimiliki dengan mengadakan extrakulikuler untuk menampung bakat siswa di luar
kemampuan dalam mengolah dan memahami ilmu pelajaran yang didapatkan.
Jika guru lebih cenderung memperhatikan siswa yang berprestasi dan
mampu maka siswa yang kurang mampu akan merasakan iri dan kurang
perhatian untuk mencari perhatian biasanya mereka melakukan kegiatan yang
melanggar peraturan sekolah salah satunya adalah tawuran.
- Faktor Sejarah Sekolah
Salah satu yang menjadi faktor
terjadinya tawuran antar pelajar adalah sekolah yang mereka tempati memiliki
hubungan yang kurang baik dengan sekolah lain, hubungan kurang baik ini
biasanya sudah berlangsung sudah lama dan dijadikan sebagai rivalitas.
Jika sudah begini terjadinya tawuran antar sekolah sangat sering
terjadi dan sulit untuk di selesaikan, apa lagi jika ada perlombaan per
tandingan yang mempertemukan dua sekolah yang sejak dulu memiliki hubungan
buruk maka bisa terjadi tawuran.
10. Minimnya pengetahuan Agama
Agama menjadi faktor yang
paling penting dan utama, jika diurutkan agama menjadi faktor di atas pendidikan
orang tua dan keluarga. Siswa yang kurang dalam menjalankan ibadah dan
cenderung untuk bermain dari pada mengikuti pengajian-pengajian.
Minimnya waktu pembelajaran di sekolah menjadi penyebab
pengetahuan siswa tentang agama minim juga, sebenarnya peran orang tua dalam
mengajari anaknya tentang agama juga sangat besar oleh karena itu baiknya
sekolah kan di Pesantren.
Kami sudah mewawancarai seorang
narasumber yang bersedia untuk berbagi kisah kenakalan yang pernah dia lakukan
saat remaja. Sebagai apresiasi kami, maka kami tidak akan memberitahukan
identitas narasumber tersebut atas kemauannya. Kami berterima kasih atas
partisipasi narasumber yang telah membantu untuk menyelesaikan tugas kami.
Pewawancara
: “Kenakalan apa saja yang pernah Anda lakukan saat remaja ?”
Narasumber
: “Saya pernah melakukan tawuran.”
Pewawancara
: “Kapan Anda melakukan tawuran tersebut ?”
Narasumber
: “Saat saya di kelas 1 SMP saya melakukan tawuran tersebut.”
Pewawancara
: “Siapa yang Anda lawan saat tawuran tersebut ?”
Narasumber : “Saya dan teman – teman
saya melawan anak – anak dari salah satu
SMP di Jakarta saat itu.”
Pewawancara
: “Apa alasan Anda melakukan aksi tawuran tersebut ?”
Narasumber : “Alasannya sebenarnya
sepele. Saat itu anak dari SMP lain sedang menaiki truk bersama kawananya.
Mereka melewati tempat saya dan teman – teman saya sedang berkumpul. Saat
melewati kami, mereka mengejek – ngejek kami dengan seenaknya. Karena
terpancing emosi saya dan teman – teman saya mengejek mereka kembali sehingga
kami melakukan aksi tawuran dengan melawan mereka.”
Pewawancara : “Kenapa Anda bisa terlibat
dengan aksi tawuran tersebut ?”
Narasumber : “Awalnya saya hanya ikut –
ikutan untuk meramaikan. Tetapi jadi tawuran sungguhan.”
Pewawancara : “Alat apa yang Anda
gunakan saat tawuran ?”
Narasumber : “Saat itu saya melempar
batu ke lawan.”
Pewawancara : “Apa efek yang Anda
dapatkan dari tawuran tersebut ? Apakah Anda mendapatkan luka ? ”
Narasumber : “Tidak, saya tidak
mendapatkan luka.”
Pewawancara : “Apakah Anda menyesal
pernah melakukan tawuran ?”
Narasumber : “Saya menyesal pernah
melakukan tawuran. Karena menurut saya tawuran itu alay, saya merasa bodoh
karena mengikuti teman – teman lainnya.”
Pewawancara : “Selain tawuran itu apakah
anda pernah melakukan kenakalan yang lain?”
Narasumber : “ Saya tidak pernah
melakukan kenakalan lain yang sangat beresiko karena saya sadar itu hanya akan
merugikan diri saya sendiri.”
Daftar Pustaka

Tidak ada komentar:
Posting Komentar